HIMANITA BEKERJASAMA DENGAN IMABI SELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL TANTANGAN PARA PELAKU BISNIS DI ERA DISRUPTION

 

Himpunan Mahasiswa Administrasi Bisnis (HIMANITA) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Bisnis Indonesia (IMABI) selenggarakan Seminar Nasional dengan tema Peluang dan Tantangan Para Pelaku Bisnis dalam Menghadapi Era Disruption. Seminar ini bertempat di Gedung Graha Wiyata lt. 9 pada Kamis (22/3).

M. Nadir, ketua pelaksana Seminar Nasional dan Mahmud, ketua HIMANITA mengucapkan selamat datang dan berterima kasih kepada para delegasi Rakornas IMABI. Tak lupa mereka mengucapkan terima kasih kepada program studi, fakultas, dan universitas serta sponsor dan media partner yang telah mendukung rangakaian acara Rakornas IMABI tersebut. "Selain seminar nasional, besok juga diselenggarakan donor darah yang bertempat di Graha Widya Lt.2", tutur Nadir. Ahmad Taufiq Rahman, Sekretaris Jendral IMABI mengucapkan terimakasih kepada UNTAG yang telah memfasilitasi sehingga Rakornas IMABI ini dapat terselenggarakan dengan baik.

Seminar tersebut dihadiri juga oleh Dekan FISIP, Dr. Endro Tjahjono, MM., Kaprodi Administrasi Bisnis, serta perwakilan anggota IMABI se-Indonesia. Dalam kesempatan tersebut Rektor UNTAG Surabaya, Dr. Mulyanto Nugroho, MM, CMA, CPAI menyampaikan pentingnya memperkuat kolaborasi dalam inovasi dan kreasi karena sekarang sudah memasuki era 4.0 sekaligus membuka seminar tersebut yang ditandai secara simbolik dengan pemukulan gong. Seminar Nasional tersebut menghadirkan tiga narasumber diantaranya, Bagus Andris Lasmana, Founder PT. Adirejo Cocos Nucifero Indonesia, CEO Grandjava, dan AMAKU Imports Exports, Titik Winarti, pemilik Tiara Handicraft serta Hamzah Izzulhaq.

Dalam pemaparan materinya Bagus Andris Lasmana mengatakan bahwa kejayaannya saat ini berkat ketidaktakutannya untuk gagal. “Saya sudah sering gagal, tapi tidak pernah menyerah dan saya bangkit berkali-kali,” tutur Bagus.“Untuk bisa sukses berusaha ada beberapa kunci; yaitu mulai dari yang kecil, cari peluang bisnis yang sudah ada, pilih bisnis yang disukai, jangan menunggu sempurna, mulailah berdagang sebelum produksi, buat bisnis yang cepat, penuhi keinginan pasar, dan selalu fokus,” tutupnya.

Narasumber kedua, Titik Winarti merupakan pemenang Microcredit Award 2004 atas dedikasinya dalam menciptakan bisnis dengan 100% pekerja difabel. Dirinya mengaku bahwa ini adalah tantangan besar baginya. “Para pelamar kalau tidak difabel tidak akan saya terima. Dulu saya bermodal kasihan, sekarang tujuan saya lebih kepada memberikan reward pada keluarga dengan anak difabel”.

Seorang pengusaha muda, Hamzah Izzulhaq menjadi narasumber dalam seminar tersebut. Dalam pemaparan materinya, ia mengatakan bahawa untuk menjadi pengusaha jangan takut untuk gagal. “Menjadi pengusaha muda harus mempunyai kemauan kuat, jangan terlalu banyak berpikir, kreatif, konsisten, memperbanyak jam terbang dan pengalaman, serta harus berani jual diri (kemampuan dan keahlian)”, tutur Hamzah. Ia juga menambahkan “membuka usaha harus dengan keberanian, tetapi untuk mengembangkannya harus dengan ilmu”, tutupnya. (Um)

https://untag-sby.ac.id

 

Komentar